Senin, 24 Oktober 2011
Saat Terakhir Rosulullah
Dikeheningan padang arafah yang gersang
Didesa sepi bernama Namira
Rosul Alloh masih saja duduk diatas ontanya, A-lQaswa
Memandang umatnya menuju tebing-tebing dan perbukitan
dalam diam…
dalam kebisuan…
Angin masih saja bertiup semilir
Seolah ikut menghantar mereka pulang
Sesekali langkah mereka terhenti dan menoleh kebelakang
Seperti tak ingin lepas dari wajah bening Rosul Alloh diatas pelana ontanya
“Ayyuhan nas, isma’u qauli”
Dengarlah kata-kataku……
Aku tidak tahu, apakah setelah hari ini
setelah hari yang suci ini
aku bisa bertemu dengan kalian semua
Ingatlah wahai saudaraku
Aku tinggalkan kalian dua amanat
Jika kalian pegang erat
Kalian pasti selamat dan tak akan tersesat
Kitabullah dan sunah Rosul Alloh
Suara sendu di perbukitan itu
seolah pertanda..
seakan firasat…
Dari kejauhan
Dari atas ontanya.Al-Qaswa
Rosul Alloh masih saja memandang umatnya
Seakam berat melepas kepergian mereka
Sahabat dan pengikutnya perlahan surut dan kemudian pulang kembali kerumahnya
Abu bakar yang arif, tersedu menangis menitikan air mata
hatinya berdesah dan berbisik :
“Ya Rosul Alloh, benarkah kita tidak akan bertemu lagi?”
Pada suatu malam di padang Baqi
di pekuburan para syahid yang sepi
isyrat dan pertanda itu ditiupkan kembali
kemudian terdengar suara Rosul Alloh lirih
“Salam sejahtera wahai kalian penghuni kubur
Ingatlah!!
Hari akhir lebih berat pembalasannya daripada di dunia…
Wahai engkau yang sedang terbaring di tanah ini
Kami pasti akan bersua dan menyusul kalian disana”
Dihamparan makam Baqi
Tanda-tanda telah dinampakkan lagi
Demam dan keletihan mulai membalut tubuh Rosul Alloh
Manusia pilihan Tuhan
Dengan berikat kain dikepala
Rosul Alloh tertatih-tataih berjalan perlahan
Bertopang pada Ali bin Abi Tholib
dituntun oleh Al-Abbas menuju rumah Aisyah
Di pembaringan
tubuh Manusia Agung itu
panasnya semakin memuncak
keringat mulai mengucur
membasahi wajah dan jubahnya
Di pangkuan Aisyah
Rosul Alloh menyandarkan kepalanya
Kemudian terdengar desah suaranya yang lirih bergetar
“Wahai Aisyah!!
Ketahuilah bahwa malaikat pencabut nyawa telah datang dan berbisik padaku”
“Ya Rosul
Alloh Azza wa jalla telah mengutusku dan menyuruhku
Agar tidak mencabut ruhmu kecuali dengan izinmu
Ya Rosullulloh, aku menunggu perintahmu”
“Tunggulah
Tunggulah sampai jibril datang padaku,” pintanya perlahan
Tak lama kemudian dalam keheningan
Bersama desiran angin padang pasir,
Jibril datang dihadapan
Suasana terasa demikian syahdu dan semakin mencekam
“YA Muhammad
Sesungguhnya Alloh telah rindu kepadamu.”
“Wahai Jibril
Jangan tinggalkan tempat ini
Temanilah aku
Saat izrail hendak mencabut ruhku”
Angin padang pasir seakan berhenti bertiup dan memberi tanda duka
Awan seakan memayungi rumah Aisyah yang begitu sederhana
Fatimah, putri kesayangan
Mencium ayahandanya yang terbaring kelelahan
Wajahnya memendam duka dan kesedihan yang kian mendalam
Dengan perlahan
Rosul Alloh meraih wajah putri terkasihnya itu
Dibisikkannya lagi sesuatu yang membuat ia tersenyum terharu
“Wahai putri kesayangan Rosul, apa gerangan yang terjadi?”
“Aku sedih, aku menangis dan menitikan airmata
Karena ayahanda mengatakan akan kembali kepada Tuhannya
Aku tersenyum, karena dibisikan bahwa akulah yang pertama yang akan menyusul ayahanda”
Di pembaringan,
Lelaki Agung itu
Masih aja menegadahkan wajahnya kelangit
Kemudian terdengar suara lirih setengah barbisik :
“UMMATI, UMATTI, YA RABB, UMATTI…..
Dengan wajah memendam duka
Aisyah menarik tubuh lunglai itu kepangkuannya
Dalam keletihan, Rosul Alloh membasuh tangannya
dan kemudian mengusapkan air kewajahnya
Diantara desah nafas yang tersendat terdengar doanya lirih
“Ya Alloh,
ampunilah dosaku
rahmatilah aku
pertemukan aku
bersama orang yang Engkau beri nikmat
Para nabi, Shadikin, Syuhada dam Shalihin”
“Ya Alloh
Ampunilah dosaku
Ampunilah dosaku”
Doa itu semakin lirih
Semakin lirih….
Tangan manusia yang Agung yang terkulai itu…. kian lunglai
Izrail perlahan mendekatinya dan mengucapka salam
Kepada manusia Agung pilihan Tuhan itu
“Apa yang engkau perintahkan padaku wahai Muhammad!!!
Tersengar suara yang semakin lirih berbisik
“Al-hiqni bi robbil’an… Al-hiqni bi robbil’an…!!!!
Pertemukan aku dengan tuhanku sekarang juga… sekarang juga!!!!
Isyarat dan tanda itu semakin mendekat
Diantara keletihan dan kesedihannya
Rosul Alloh memandang sendu wajah sahabat-sahabat dan kerabatnya
Dan kemudian bersabda:
Marhaban bikum…
Selamat datang untukmu sekalian
mudah-mudahan Alloh selalu melindungimu dan menolongmu
Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang yata
dari padaNya untuk kalian
Ajal telah semakin mendekat
Dan kembali itu hanya pada Alloh
Kemudian kesidratil Muntaha
Kemudian kesyurga AL-Ma’wa
Manusia Agung yang sedang terbaring keletihan itu
seakan tidak rela umatnya kelak akan mendapat nestapa
dan tidak ikut melangkah kesyurga bersamanya
“Wahai Jibril,” bisiknya
“Siapkan juga bagi umatku….
Sesudahku”
Kemudian
Saat Izrail akam mencabut ruhnya
Masih juga kekasih Alloh itu bertanya kepada Izrail,
“Ya Izrail……
Akankah umatku akan mengalami sakitnya sakaratul maut seperti ini?”
Diantara desah nafas yang tersendat
Rosululloh menegadah
Bermohon lagi kepada Alloh:
“Ya Alloh biarlah aku yang merasakan seluruh kepedihan
saat sakaratul maut ini
Ringankanlah sakaratul maut untuk umatku……
Ringankanlah sakaratul maut untuk umatku……
Ringankanlah sakaratul maut untuk umatku…… Ya Alloh……”
Alloh segera menjawab pinta doa Rosullulloh, kekasinNya
Yang gelisah memikirkan umatnya
“Berilah kabar yang genbira kepada kekasihKU itu, ya Jibril
Bahwa aku tidak akan menelantarkannya
Aku tidak akan menyengsarakannya
Dan bahwa syurga itu diharamkan atas umat-umat yang lain
Sebelum umatnya memasuki syurgaku”
Mendengar janji Alloh
Cahaya mata yang bening itu
Kemudian pajam tertidur dalam keheningan
Dan dalam keabadian untuk selamanya
Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun………………………….
Pentingnya Ilmu Sebelum Berkata Dan Beramal
Pembaca yang dimuliakan oleh Allah ta’ala, kalau kita membicarakan Ilmu dalam islam, maka kita membicarakan sesuatu yang tidak ada habisnya untuk di bahas. Sejarah mencatat, kehidupan umat manusia sebelum diutusnya Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam sangatlah jauh dari petunjuk ilahi. Norma-norma kebenaran dan akhlak mulia nyaris terkikis oleh kerasnya kehidupan, karena itulah masa tersebut masa jahiliyah, yaitu masa kebodohan.
Ketika keadaaan manusia seperti itu maka Allah pun menurunkan Rasul-Nya, dengan membawa bukti keterangan yang jelas, supaya Rasul tersebut bisa membimbing manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang berderang dengan keterangan yang sangat jelas, dengan bukti-bukti yang sangat jelas, Allah ta’ala berfirman dalam al-Qur’an, “Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat, karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut (yaitu syaithan dan apa saja yang disembah selain dari Allah ta’ala) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256)
Islam adalah agama yang sarat (penuh) dengan ilmu pengetahuan, karena sumber ilmu tersebut adala wahyu yang Allah ta’ala turunkan kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan perantara malaikat Jibril ‘alaihis salam. Allah ta’ala Berfirman: “Dan tiadalah yang diucapkannya (Muhammad) itu menurut hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.” (An-Najm: 3-4) Dengan ilmu inilah Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam tunjukkan semua jalan kebaikan, dan beliau peringatkan tentang jalan-jalan kebatilan. Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi yang terakhir dan sekaligus Rasul yang diutus kepada umat manusia dan jin. Maka ketika Rasulullah wafat, beliau telah mengajarkan ilmu yang paling bermanfaat dari wahyu Allahta’ala, ilmu yang sempurna, ilmu yang membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Maka barang siapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang cukup untuk kebahagiaannya di dunia dan akhirat.
Ilmu Dahulu Sebelum Amal
Imam besar kaum muslimin, Imam Al-Bukhari berkata, “Al-’Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali”, Ilmu Sebelum Berkata dan Beramal. Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allahta’ala “Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS. Muhammad: 19). Dari ayat yang mulia ini, Allah ta’alamemulai dengan ilmu sebelum seseorang mengucapkan syahadat, padahal syahadat adalah perkara pertama yang dilakukan seorang muslim ketika ia ingin menjadi seorang muslim, akan tetapi Allah mendahului syahadat tersebut dengan ilmu, hendaknya kita berilmu dahulu sebelum mengucapkan syahadat…, kalau pada kalimat syahadat saja Allah berfirman seperti ini maka bagaimana dengan amalan lainnya, tentunya lebih pantas lagi kita berilmu baru kemudian mengamalkannya. Ucapan ini beliau katakan ketika memberi judul suatu Bab di dalam kitab beliau “Shahihul Bukhari” dalam kitab Al-Ilmu.
Pentingnya Ilmu Agama
Berikut ini adalah penjelasan singkat dari sebagian Ulama berkaitan dengan perkataan Al-Imam Al-Bukhari di atas:
Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin berkata: “Al-Imam Al-Bukhari berdalil dengan ayat ini (Muhammad: 16) atas wajibnya mengawali dengan ilmu sebelum berkata dan beramal. Dan ini merupakan dalil atsari (yang berdasarkan periwayatan) yang menunjukkan atas insan bahwa berilmu terlebih dahulu baru kemudian beramal setelahnya sebagai langkah kedua. Dan juga di sana ada dalil ‘aqliyah (yang telah diteliti) yang menunjukkan atas ‘ilmu sebelum berkata dan beramal’. Hal itu karena perkataan dan amalan tidak akan benar dan diterima sehingga perkataan dan amalan tersebut mencocoki syariat, dan manusia tidaklah mungkin mengetahui bahwa amalnya mencocoki syariat kecuali dengan ilmu.” (Syarh Tsalatsatul Ushul Syaikh ‘Utsaimin)
Asy-Syaikh Sholeh bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh berkata, “Ilmu itu jika ditegakkan sebelum ucapan dan amal, maka akan diberkahi pelakunya meskipun perkaranya kecil. Adapun jika ucapan dan amal didahulukan sebelum ilmu, walaupun bisa jadi perkaranya itu sebesar gunung, akan tetapi itu semua tidaklah di atas jalan keselamatan…Karenanya kami katakan, Jadikanlah ilmu tujuan penting dan utama, jadikanlah ilmu tujuan penting dan utama, ilmu di mulai sebelum yang lain, khususnya ilmu yang membuat ibadah menjadi benar, ilmu yang meluruskan aqidah, ilmu yang memperbaiki hati, ilmu yang menjadikan seseorang berjalan dalam amalannya sesuai dengan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan di atas kebodohan.” (Syarh Tsalatsatul Ushul Syaikh Abdul Aziz, Maktabah Syamilah)
Ibnu Baththal berkata, “Suatu amal tidak teranggap kecuali di dahului oleh ilmu, dan maksud dari ilmu ini adalah ilmu yang Allah janjikan pahala padanya”. Ibnu Munir berkata, “Imam Al-Bukhari bermaksud dengan kesimpulannya itu, bahwa ilmu merupakan syarat atas kebenaran suatu perkataan dan amalan. Maka suatu perkataan dan amalan itu tidak akan teranggap kecuali dengan ilmu. Oleh sebab itulah ilmu didahulukan atas ucapan dan perbuatan, karena ilmu itu pelurus niat, di mana niat itu akan memperbaiki amalan.” (Dinukil dari Taisirul Wushul Ila Nailil Ma’mul, Syarh Tsalatsatul Ushul)
Pelajaran yang dapat kita petik adalah, kita hendaknya “Berilmu sebelum berkata dan beramal” karena ucapan dan perbuatan kita tidak akan ada nilainya bila tanpa ilmu, amalan yang banyak yang kita lakukan bisa tidak teranggap di sisi Allah kalau tidak didasari dengan Ilmu.
Anjuran Berilmu Agama
Dalam Al-Qur’an dan hadits terdapat begitu banyak anjuran yang memerintahkan agar kita berilmu agama. Bahkan sesungguhnya Allah ta’ala telah memuji ilmu dan pemiliknya. Menyiapkan bagi siapa saja yang berjalan di atas titian ilmu tersebut balasan yang baik, pahala, ganjaran, Allah ta’alamengangkat derajat kedudukan mereka di dunia dan akhirat. Allah ta’ala berfirman: “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.”(QS. Al-Mujadilah: 11)
Keutamaan Ilmu Agama, Pencarinya, dan Ulama
Pembaca yang dimuliakan oleh Allah, sudah suatu kepastian bahwa setiap manusia pada asalnya adalah bodoh, dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun. Allah ta’ala berfirman, “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)
Namun hendaknya setiap pribadi muslim tidak membiarkan dirinya terus menerus dalam keadaan bodoh akan ilmu agamanya sendiri. Sebab kebodohan itu apabila terus menerus dipelihara dapat mengantarkannya kepada kehinaan dan kerugian yang besar. Sebaliknya ilmu agama islam ini adalah satu-satunya ilmu yang dapat mengantarkan seseorang meraih kemuliaan hidup yang hakiki di dunia dan akhiratnya.
Berikut ini di antara motivasi yang Allah dan Rasul-Nya tunjukkan akan betapa mulianya ilmu:
1. Pencari ilmu akan Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menempuh sebuah jalan dalam rangka untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga.” (HR. Muslim)
2. Orang yang dikaruniai ilmu agama merupakan tanda kebaikan dari Allah ta’alabaginya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah akan memahamkan ilmu agama kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka dari hadits ini kita bisa mengambil kesimpulan, seseorang yang tidak Allah berikan pemahaman agama kepadanya maka ini merupakan tanda Allah tidak menginginkan kebaikan kepadanya, dan sebaliknya seorang yang paham dengan agama Allah merupakan tanda kebaikan pada dirinya.
3. Ulama adalah pewaris para Nabi. “Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham (harta) akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya maka sungguh ia telah mendapatkan bagian yang sangat banyak.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud dan At-Tirmidzi)
4. Seorang yang berilmu adalah cahaya yang menjadi petunjuk bagi manusia dalam urusan agama maupun dunia, bila seorang ulama meninggal maka itu adalah musibah yang dialami kaum muslimin. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu secara langsung dari hati hamba-hambanya akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika Allah tidak lagi menyisakan ulama, jadilah manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh sebagai ulama, mereka bertanya kepadanya dan ia pun menjawab tanpa ilmu sehingga ia sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Rasulullah Berdoa kepada Allah agar ditambahkan ilmu agama. Cukuplah kemuliaan bagi ilmu dengan Allah ta’ala memerintahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi pilihan untuk berdoa meminta tambahan ilmu, bukan meminta tambahan harta atau yang selainnya dari perkara dunia, Allah ta’ala berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad), “Wahai Rabbku, tambahkanlah ilmu bagiku.” (QS. Thaha: 114)
Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang menyebutkan tentang keutamaan ilmu dan ucapan para Ulama dalam hal ini, namu cukuplah apa yang telah kami sebutkan di atas untuk mewakili banyaknya keutamaan-keutamaan tersebut.
Ilmu Apa Yang Wajib Dipelajari
Ilmu yang wajib dipelajari bagi manusia adalah ilmu yang menuntut untuk di amalkan saat itu, adapun ketika amalan tersebut belum tertuntut untuk di amalkan maka belum wajib untuk dipelajari. Jadi ilmu tentang tauhid, tentang 2 kalimat syahadat, ilmu tentang iman, adalah ilmu yang wajib dipelajari ketika seseorang menjadi muslim, karena ilmu ini adalah dasar yang harus diketahui.
Kemudian ilmu tentang shalat, hal-hal yang berkaitan dengan shalat, seperti bersuci dan lainnya, merupakan ilmu berikutnya yang harus dipelajari, kemudian ilmu tentang hal-hal yang halal dan haram, ilmu tentang mualamalah dan seterusnya.
Contohnya seseorang yang saat ini belum mampu berhaji, maka ilmu tentang haji belum wajib untuk ia pelajari saat ini, akan tetapi ketika ia telah mampu berhaji, maka ia wajib mengetahui ilmu tentang haji dan segala sesuatu yang berkaitan dengan haji. Adapun ilmu tentang tauhid, tentang keimanan, adalah hal pertama yang harus dipelajari, karena setiap amalan yang ia lakukan tentunya berkaitan dengan niat, kalau niatnya dalam melakukan ibadah karena Allah maka itu amalan yang benar, adapun kalau niatnya karena selain Allah maka itu adalah amalan syirik, kita berlindung dari berbuat syirik kepada Allah ta’ala.
Mewaspadai Bahayanya Kebodohan
Pembaca kaum muslimin yang dimuliakan Allah, demikianlah beberapa bentuk kemuliaan yang Allahta’ala berikan terhadap para pemilik ilmu sehingga tidak sama kedudukannya dengan mereka yang tidak memiliki ilmu. Allah ta’ala berfirman: “Katakanlah (ya Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang yang tidak mengetahui (jahil)?.” (QS. Az-Zumar: 9)
Sebaliknya orang yang jahil akan ilmu agama-Nya disebutkan oleh Allah ta’ala sebagai seorang yang buta yang tidak bisa melihat kebenaran dan kebaikan. Allah ta’ala berfirman, “Apakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu adalah al-haq (kebenaran) sama dengan orang yang buta? (tidak mengetahui al-haq).” (QS. Ar-Ra’d: 19)
Hal ini menunjukkan bahwa yang sebenarnya memiliki penglihatan dan pandangan yang hakiki hanyalah orang-orang yang berilmu. Adapun selain mereka hakikatnya adalah orang yang buta yang berjalan di muka bumi tanpa dapat melihat. Allah ta’ala berfirman: “Tidak sama antara penghuni an-nar dengan penghuni al-jannah.” (QS. Al-Hasyr: 20)
Semoga Allah ta’ala memberi taufik kepada kita semua untuk senantiasa berilmu sebelum berkata dan beramal. Semoga Allah menolong kita untuk meraih kemuliaan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat dengan mempelajari ilmu agama islam yang benar yang bersumberkan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah bimbingan Ulama Pewaris Nabi. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
Nasehat Islami
Alangkah baiknya jika engkau tetap manis
Meski hidup itu sendiri adalah pahit.
Dan alangkah baiknya jika engkau rela
Walaupun manusia penuh dengan kemurkaan.
Alangkah baiknya di antara aku dan engkau
tetap terjalin hubungan yang mesra
Walaupun di antara aku dengan seluruh alam telah hancur.
Jika benar-benar dari pihak engkau ada yang jujur,
maka segala urusan mudahlah dihadapi.
Sebab tiap-tiap yang ada di antara tanah itu
adalah semata-mata tanah belaka.
(Imam Syafi’i)
Siapa yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan
maka berarti berusaha untuk menghilangkan nikmat itu,
dan siapa yang bersyukur atas nikmat itu
berarti telah mengikat nikmat itu dengan ikatan yang kuat kukuh.
(Al Hikam)
Ajaib masalah Islam ini
Sesungguhnya seluruhnya adalah kebajikan,
kebaikan, persaudaraan, saling menasihati dengan kebenaran,
saling menasihati dengan sabar
Bukankah risalahnya adalah rahmat bagi seluruh alam ?
(Al Lewa Al Islamy)
“Janganlah kamu melihat kepada kecilnya kesalahan, tetapi lihatlah kepada maha besarNya Dzat yang kamu tentang.”
(Bilal bin Sa’ad)
Apabila melaksanakan perintah Allah SWT,
maka tanggalkanlah pandangan manusia yang tertuju kepadamu,
dan tanggalkanlah kepentingan pribadimu,
semua hendaknya engkau tujukan semata-mata kepada Allah saja.
(Abdul Qadir Jailani)
Islam memiliki dinding dan pintu yang kuat.
Dinding Islam itu ialah kebenaran dan pintunya ialah keadilan.
islam akan tetap jaya, selama penguasa-penguasa bersikap keras dan tegas,
tetapi itu dilakukan tidak berarti mesti dengan pedang dan cemeti,
melainkan dengan hak dan keadilan.
(Said bin Suwaid)
Tidak ada kebaikan bagi pembicaraan kecuali dengan amalan.
Tidak ada kebaikan bagi harta kecuali dengan kedermawanan.
Tidak ada kebaikan bagi sahabat kecuali dengan kesetiaan.
Tidak ada kebaikan bagi shadaqah kecuali niat yang ikhlas.
Tidak ada kebaikan bagi kehidupan kecuali kesehatan dan keamanan.
(Al-Ahnaf bin Qais)
Demi engkau,
Apakah arti manusia
selain arti agamanya
karena itu, janganlah tinggalkan taqwa
karena bergantung kepada turunan !
Buktinya, Islam telah mengangkat (Sang Budak) Salman Al-Farisi
Dan menjauhkan kebangsawanan Abu Lahab Karena Syirik.
(Al Lewa Al Islami)
Lima macam obat hati yaitu:
1. Membaca Al-qur’an dan memahami artinya.
2. Mengosongkan perut jangan terlalu kenyang
3. Bangun malam untuk Shalat
4. Berendah diri kehadirat Allah tatkala dini hari
5. Sering duduk bersama orang-orang salah yang baik.
(Ahli Tasawuf)
“Putaran waktu akan memperlihatkan kepada kita
peristiwa2 yang mengejutkan dan memberikan peluang
kepada kita untuk berbuat.
Dunia akan melihat bahwa dakwah kita adalah hidayah,
kemenangan dan kedamaian yang dapat menyembuhkan ummat
dari rasa sakit yang tengah dideritanya.
Setelah itu tibalah giliran kita untuk memimpin dunia,
karena bumi tetap akan berputar
dan kejayaan itu akan kembali kepada kita.
hanya Allah-lah harapan kita satu-satunya.”
(Hasan Al Bana)

